LOG IN

Tolerance ambiguity

by evanhutomo

Tulisan ini hanya berintensi untuk self-note semata, karena saya merasa ada korelasi antara masa kecil saya dan warna kesukaan saya dengan istilah tolerance ambiguity. Penjelasan lebih lengkapnya dapat dibaca di artikel ini dan setelah itu coba dengarkan cuplikan video tentang cara belajar bahasa yang efektif, cepat (sedikit kurang nyambung? lihat dulu saja).

Oh ya, sebelum saya lanjutkan, waktu saya membaca penjelasan toleranting ambiguity dari artikel diatas, hal pertama yang terbesit dari otak saya adalah coret. Dulu, baik dari penjelasan mama saya, adik saya, dan juga dari ingatan saya, saya (entah mengapa) suka sekali mencoret-coret sesuatu, entah coret-coret abstrak, ataupun (maaf) memodifikasi gambar/photo dengan menambahi coretan. Menurut saya saat itu, hal mencoret-coret sangat menyenangkan, dan apabila mungkin kalau anda berkata “mengapa” kepada saya, saya dengan umur 20an ini akan menjawab...

karena saya suka dan tidak peduli untuk menumpahkan ide saya di atas kertas
Evan, 9

Saya bilang tidak peduli, karena (mohon maaf sekali lagi), unconsciously saya pernah mencoret-coret alkitab orang tua saya dengan crayon. Itu yang pertama, hal kedua yang membuat saya  adalah, warna abu-abu. Jujur, saya ingat history dari mengapa saya jatuh hati dengan warna abu-abu. Dulu sekitar saat saya masih SMP (sekitar tahun 2003-2005) warna abu-abu cukup booming dan sering diaplikasikan ke jaket hoody. Pikiran “SMP” saya saat itu simple, warna ini sedang tren-saya cocok-saya suka, sesederhana itu. Dan saya menginjak SMA, tren warna abu-abu masih ada, dan tidak kebetulan juga kelasku (X8) saat itu sedang berencana membuat jaket hoody abu-abu, yaa~ meski sablon karet bergambar tengkorak pink itu merusak kepolosan dari jaket abu-abu favorit saya, namun saya tetap suka, sekali lagi karena abu-abu.
Sampai sekarang, saya masih suka abu-abu, dan berbagai  bisa saya ungkapkan tentang mengapa saya suka warna ini. Mulai dari warna abu-abu itu netral, bisa diterapkan dengan warna lainnya. Warna abu-abu itu terbuka, karena dia gabungan dari hitam dan putih. Warna abu-abu itu meski pudar, dia tidak terlihat pudar, karena saturasi dari abu-abu murni ya tetap abu-abu. Warna abu-abu itu long lasting, saya semakin suka pada jaket usang abu-abu saya, karena selain saya suka material dari jaket tersebut, saya suka bagian gradasi dari abu-abu tua ke abu-abu muda yang menjadikan jaket saya terlihat usang dan lama. Entah mengapa, saya suka. Dari kedua hal diatas, entah mengapa saya merasa ada korelasi dari Tolerance ambiguity. Namun apa sebenarnya Tolerance ambiguity itu?

Staying in uncertainty, or staying with the question, despite the discomfort of not knowing the answer, or not knowing where we’re headed. It requires relinquishing control – even though a solution isn’t always guaranteed – to make room for new and emerging connections to crystalize into a clear direction. It also means accepting the fact that there might be numerous ways of answering the same question, each with different but potentially positive results.
Maggie Dugan - knowinnovation.com

sebenarnya saya kurang begitu suka membuka diri, karena saya tahu saya sering menghadapi refusal apabila saya membuka diri, apabila saya expose diri. Saya ingin expose, namun dunia terlalu kejam untuk saya, dan pada akhirnya saya membuat dunia saya sendiri untuk kebutuhan exposure saya.

Dari artikel Maggie Dugan, saya mau mengutip tulisan dari beliau (sebenarnya untuk self-note) :

  1. Stay neutral and suspend judgement
  2. Stay curious
  3. Enjoy the mess
  4. Take time
  5. Try things on

以上


evanhutomo
OTHER SNAPS