LOG IN

抽象(2)

by evanhutomo

Precaution, tulisan ini benar-benar subyektif dan lebih berdasarkan pemikiran yang tercampur oleh emosional, pengalaman penulis, dan hasil pengamatan penulis.

Mungkin saat ini baik teman maupun orang indonesia pada umumnya akan merasa puas dengan pencapaian-pencapaiannya dalam mencari uang dengan media dan label "usaha sendiri". Tidak jarang juga, hasil pencapaiannya dishare dengan "standard" yang dengan harapan, diterapkan juga oleh orang yang melihatnya. Jujur, merasa bahwa saat ini orang di indonesia lebih terasa aura untuk show off nya, dan jarang sekali terlihat aura kerendahan hatinya, berbeda dengan di jepang.

Di jepang, orang lebih mudah memberikan support, dukungan, dan sanjungan yang tulus apabila orang tersebut mau bekerja, even itu bekerja di perusahaan orang lain, bukan "usaha sendiri". Pride yang dipegang oleh salaryman disini susah untuk dirasakan, apakah sebesar pride entrepreneur di indonesia atau tidak, karena salaryman disini cenderung tidak berlaku boast up. Kalaupun dia disanjung pun, mereka cenderung merendahkan dirinya daripada mengakui sanjungan tersebut, meskipun faktanya sanjungan itu tulus dan memang benar adanya.

Pemikiran sedikit random diatas, saya akui selalu berada di pikiran, terkait dengan realitas saya sebagai mahasiswa master, yang berkutat dengan belajar, dan meneliti, jauh dari pemikiran dan pembicaraan income generating, surplus, dan istilah-istilah marketing lainnya. Sejujurnya, keinginan menghasilkan uang didalam diri saya tinggi, namun saya merasa kesal apabila ada pernyataan dari seseorang seperti, "Buat apa kuliah tinggi-tinggi, toh pada akhirnya juga nyari uang juga" terdengar oleh telinga saya, terlihat didepan mata saya, terlebih diperuntukkan untuk saya.

Sejujurnya, saya bukan orang yang reaktif untuk membalas lontaran negatif orang, berbeda seperti saya saat smp dulu yang sangat reaktif, dipicu oleh bully rasis yang sangat kuat pada saat itu. Semakin kesini, sifat reaktif ini saya hapus pelan-pelan, karena saya merasa tidak ada gunanya reaktif dengan orang yang hanya memancing kebencian (atau dengan dalih ini memang fakta. Maaf, tanpa anda bicara pun saya sudah tahu fakta itu). Tidak ada gunanya reaktif terhadap orang yang tidak memikirkan lontaran kata-katanya apakah berguna bagi si pendengar.

Saya pernah merancang counter attack dari pernyataan diatas, namun tetap saja tidak menghasilkan solusi yang win-win, tetap saja saya yang merasa terpinggirkan, salah langkah, sok pintar, ikut-ikutan, dan lain se(brag)ainya. Counter yang saya rencanakan dan sudah pernah saya lontarkan seperti, "Yaa, kalau ga ada yang belajar, meneliti, ga akan ada smartphone secanggih yang kamu pegang seperti sekarang ini bro. Kuliah itu juga penting". Singkat, terbata-bata, berharap lontaran countertidak berasa braging dan berharap netral, namun, tetap, tidak sesuai dengan harapan saya. Seketika balasannya seperti, "Ya kan itu untuk orang yang pinter, yang jenius, masak kamu mampu membuat smartphone di indonesia? nda usah muluk-muluk lah kalau hidup". Setelah pernyataan diatas terlontar, lagi-lagi saya harus menyetop countersaya dan memulai memasang topeng kebanggaan saya, yang bisa anda bayangkan seperti saat Abe-さん selesai berjabat tangan dengan Donald Trump.

Ekspresi Abe-さん diatas, even orang jepang yang menurut saya honest sekalipun, tetap terlihat obviousdapat dimengerti arti dibaliknya. Kalau orang sini bilang, しょうがない (shouganai) yang artinya cukup luas, namun untuk konteks ini, mungkin seperti "can't be helped anymore", atau tidak bisa diperdebatkan lebih panjang.

Buah pemikiran saya memang berasal dari pengalaman saya, namun saya paham, akar dari setiap kejadian, setiap lontaran seperti diatas, setiap perilaku orang-orang yang saya temui tidak sejalan dengan harapan saya itu buah dari big-O permasalahan klasik indonesia yang tidak ada ujungnya. Antara ketidaktahuan, menganggap malu adalah kesalahan, kefanatikan, sampai egosentris tinggi, menjadi penyumbang besar dari big-O permasalahan di indonesia (sekali lagi, ini buah subjektifitas saya, saya tahu ini terlihat defensif, karena memang saya ISFJ).



evanhutomo
OTHER SNAPS